Pengembang siapkan sekuel gim “DreadOut”

Jakarta (ANTARA News) – Pengembang gim “DreadOut” Digital Happiness mengatakan bahwa saat ini tengah mempersiapkan sekuel gim “DreadOut.”

Sayangnya, pengembang gim “DreadOut” Rahmat Imron enggan mengungkapkan kapan “DreadOut 2” akan dirilis.

“Nanti dikabari. Kalau sekarang sih sudah mulai dikembangkan dari tahun lalu. Daripada janji palsu,” ujar Rahmat dalam temu media sebelum acara Gala Premier film “DreadOut” di Jakarta, Rabu.

Namun, dia mengatakan bahwa “DreadOut 2” akan menjadi satu universe dengan film “DreadOut” yang menceritakan pre-kuel dari gim “DreadOut” itu sendiri.

“Jadi memang nanti harapannya, “DreadOut 2” keluar itu nanti akan mengerti “DreadOut 2” seperti ini, “DreadOut 1″ seperti ini. Dan semuanya ada korelasinya,” kata dia.

Gim “DreadOut” diangkat ke layar lebar di bawah tangan dingin sutradara Kimo Stamboel yang sebelumnya telah sukses dengan beberapa judul film diantaranya “Headshot.”

“Dengan diadaptasinya “DreadOut” ke film diharap bisa menjembatani gim agar lebih diapresiasi oleh lokal,” kata Rahmat.

Hal ini, menurut Rahmat, karena gim merupakan bisnis atau industri yang baru “hype” di Indonesia. Namun, dia mengatakan bahwa dari total pendapatan game “DreadOut” hanya 10 persen yang berasal dari Indonesia.

Dia juga mengungkapkan bahwa penjualan “DreadOut” mencapai sekitar satu juta dolar AS dalam kurun waktu kurang lebih sekitar dua tahun. “DreadOut” telah diunduh 2,5 juta pengguna gratis, dan 500 ribu pengguna berbayar.

“Masyarakat mengapresiasi karya lokal, cuman pembeliannya agak sulit. Sekarang dengan film ini bisa diapresiasi lebih gampang oleh gamers Indonesia,” ujar dia.

Sementara itu, sang sutrada film “DreadOut”, Kimo Stamboel, mengatakan bahwa membawa gim tersebut ke layar lebar merupakan tantangan tersendiri, yang dia rasa jauh berbeda dari adaptasi buku atau novel.

“Gim ada visualnya, serunya seperti apa, banyak cerita yang menarik tapi tidak bisa diceritakan. Skenario film ada aturan sendiri, berbeda dari gim yang mengutamakan user experience,” kata Kimo.

“Di film kami menceritakan apa yang belum diceritakan apa yang belum diceritakan di gim, dan membawa semua itu ke dunia nyata,” sambung dia.

Tantangan tersebut dibenarkan oleh Rahmat, di mana film “DreadOut” yang diadaptasi dari gim tersebut memang sedikit berbeda karena perlu penyesuaian.

“Kalau di gim bisa tamat 8 sampai 10 jam, kalau di film dengan dua jam bisa menceritakan semuanya, akan sulit,” kata Rahmat.

Untuk dapat mendekati cerita “DreadOut” yang dia sebut memiliki “skala cerita yang besar,” Kimo berusaha mendekati skala tersebut dengan banyak bertukar pikiran dan berbicara dengan Rahmat.

“Saya coba mendekati skala itu, dan setelah develop masuk ke pre-kuel. Semoga para gamers mengerti dan para penonton dapat mengikuti layaknya sebuah cerita,” ujar Kimo.

Baca juga: Platform digital makin dilirik sebagai saluran distribusi film

Baca juga: Film “Dreadout” akan tayang 3 Januari 2019

Baca juga: Caitlin Halderman akui peran Linda “Dreadout” sangat menantang

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019