PUBG janji ganti kotak mirip Kabah

Jakarta (ANTARA) – Belum selesai wacana fatwa haram dari Majelis Ulama Indonesia, game Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG) kembali menjadi perbincangan warganet karena rancangan salah satu benda dalam permainan tersebut mirip Kabah.

PUBG sedang merayakan ulang tahun mereka dengan memberikan kompetisi di dalam game tersebut, antara lain menemukan Birthday Crate berisi hadiah. Warganet menilai Birthday Crate tersebut mirip dengan Kabah, simbol suci dalam agama Islam.

Melalui media sosia, mereka memprotes Birthday Crate PUBG karena untuk mendapatkan hadiah di dalam peti, mereka harus menembakinya hingga terbuka. Warganet berang karena mereka merasa seperti melihat Kabah ditembaki.

“Tolong perbaiki,” begitu rata-rata komentar warganet tentang rancangan Birthday Crate mirip Kabah tersebut.

PUBG merespons permintaan tersebut pada Jumat (22/3) lalu. menyatakan mereka sudah memahami sumber masalah.

“Kami mengharagai umpan balik kalian tentang Birthday Crate dan kami minta maaf atas hal ini. Kami akan merancang ulang Birthday Crate dan segera merilisnya,” kata akun resmi @PUBGMOBILE.
 

PUBG menjadi perbincangan hangat selama sepekan terakhir lantaran muncul wacana game ini akan dikategorikan sebagai haram oleh MUI karena memicu aksi kekerasan.

Beredar anggapan game ini menjadi pemicu aksi penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru beberapa waktu lalu. MUI Jawa Barat pertama kali menggulirkan isu ini bahwa game ini dianggap memicu aksi kekerasan dan perlu dikaji.

MUI pada Selasa (26/3) menggelar pertemuan dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika, asosiasi eSports dan psikolog untuk mengkaji game yang mengandung unsur kekerasan, namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan fatwa.

Menurut MUI kajian untuk fatwa tentang game ini akan selesai dalam waktu satu bulan.

Baca juga: MUI dan Kominfo belum tentukan pelarangan game PUBG

Baca juga: Tanggapan gamers soal wacana fatwa haram PUBG

Baca juga: Asosiasi: eSports game strategi, bukan kekerasan
 

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019